Sang Muda

seekor kepompong sedang menunggu untuk dilahirkan kembali,

ia sendiri,

diselubungi tangan tangan tak kasatmata,

berusaha mencari arah,

ia buta,

saat satu per satu tangan tangan itu melepaskannya,

ia tahu, sebentar lagi akan tiba saatnya

kini ia merangkak melalui kegelapan,

menuju cahaya yang menuntunnya ke dunia tanpa arah,

menegak udara dengan rakus,

mengisi setiap inci tubuhnya dengan kehidupan,

“aku bebas”

tapi ia tak tahu peri peri pemakan mimpi beputar di sekelilingnya

ia bergeming

menatap langsung kehidupan di balik dinding penghisap,

merekam setiap hal yang baru bagi dirinya,

“terbang, ayo terbang. cobalah sayap barumu”

ia tersenyum, teringat bahwa ia bukanlah lagi seekor ulat,

terbang dan membiarkan sayap-sayapnya berkenalan dengan teman barunya

membiarkan matanya menjamu tamu-tamunya

semilir angin merayunya,

dan ia terbuai,

“bodoh”

ia tak tahu ilalang belum menerimanya,

ia tak tahu tangan-tangan seperti apa yang akan menyambutnya,

atau mungkin tangan itu yang akan menghempaskannya?

ia seekor muda,

baru saja mengenal dunia,

tapi ia terlanjur terbuai akan bisikan angin dan hujan,

ia membiarkan mereka menuntunnya ke cermin yang jahat!

cermin yang akan menghancurkan tunas mimpi yang ia tanam,

peri mimpi tertawa,

merasa mereka akan melihat satu lagi muda jatuh ke dalam kubangan yang mereka siapkan,

mengoyak kembali keping-kepingan impian yang disusun sang muda,

sedangkan sang muda, tak tahu apa yang akan di hadapinya,

atau siapa yang akan merobek sayapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s